Senin, 27 Juli 2009

wah,,,,,wa,,,

baru aja selesai semester pendek,,,,,,,,,,,



besok dah masuk lagi...........

bisa stress gw,,,,gak ada istirahatnya!!!


tapi gw yakin dibalik perjuangan gw sekarang,,,
suatu saat nanti pasti membuahkan hasil yang positif juga,,,


tapi itu juga gw harus tetap inget my JC dalam setiap perencanaan gw dan berdoa kepada-Nya
supaya Dia tetap menyertai gw.
Amin

Minggu, 26 Juli 2009

ASAL USUL JIWA MANUSIA

ASAL USUL JIWA MANUSIA
________________________________________
Dalam pembahasan berkenaan dengan asal-usul jiwa manusia kelompok kami akan memaparkan tiga pandangan tentang hal ini:
I. Pre-Existentianism.
1) Jiwa manusia sudah ada sebelum ia mulai ada dalam kandungan.
2) Ada dosa yang dilakukan jiwa itu, yang lalu menyebabkan jiwa itu harus berada dalam sebuah tubuh dan tinggal di dunia (sebagai hukuman).
Keberatan terhadap ajaran ini:
a) Ajaran ini tidak mempunyai dasar Kitab Suci. Ajaran yang mengatakan bahwa jiwa dipersatukan dengan tubuh sebagai hukuman, adalah ajaran kafir
b) Ajaran ini menganggap bahwa tubuh manusia adalah suatu tambahan / embel-embel yang tidak penting dalam diri manusia. Mereka percaya bahwa manusia adalah sesuatu yang lengkap sekalipun tanpa tubuh. Ini menghapuskan perbedaan antara manusia dan malaikat.
c) Ajaran ini menghapuskan ‘the unity of the race’ / kesatuan umat manusia.
d) Dalam kesadaran kita, kita tidak pernah mengingat apa-apa yang terjadi dalam kehidupan lalu kita (waktu jiwa itu belum mempunyai tubuh).
II. Traducianism.
Baik tubuh maupun jiwa seorang anak diturunkan oleh / dari orang tuanya.
Dasar dari pandangan ini:
1) Orang tua adalah orang tua dari seluruh anak, berarti termasuk jiwanya.
2) Penciptaan Hawa (Kej 2:21-23 1Kor 11:8) yang berbeda dengan penciptaan Adam. Pada penciptaan Adam, tubuh berasal dari tanah / bumi, sedangkan jiwanya berasal dari Tuhan (Kej 2:7). Tetapi pada waktu Allah menciptakan Hawa, tidak pernah dikatakan ada elemen dari Hawa yang berasal dari Tuhan. Jadi, harus disimpulkan bahwa baik tubuh maupun jiwa Hawa berasal dari Adam.
Bantahan:
Ada pepatah yang berbunyi: ‘Silence proves nothing!’ (= Diam tidak membuktikan apa-apa!). Bahwa Kitab Suci diam / tidak berkata apa-apa tentang jiwa Hawa, tidak membuktikan bahwa jiwa Hawa berasal dari Adam. Mungkin Allah memberi jiwa itu namun tidak diceritakan oleh Kitab Suci.
3) Sejak Sabat yang pertama (Kej 2:3), Allah tidak lagi mencipta secara langsung.
Pada hari pertama sampai hari keenam Allah menciptakan secara langsung. Tetapi pada hari ketujuh Allah berhenti mencipta, dan sejak saat itu Allah hanya mencipta secara tidak langsung, yaitu melalui hal-hal alamiah, second causes / penyebab kedua, dsb. Jadi penciptaan jiwa manusia juga dilakukan secara tidak langsung, yaitu melalui orang tuanya.
Bantahan:
a) Ini membatasi Allah. Sekalipun Allah pada umumnya bekerja melalui hal alamiah / second causes / penyebab kedua, tetapi Ia juga sering bekerja langsung, seperti:
• pada waktu terjadinya mujijat
• pada peristiwa kelahiran baru (ini penciptaan!)
b) Kej 2:3 menyebutkan ‘rested’ (= beristirahat). Jadi, tidak berarti bahwa Allah berhenti mencipta (secara langsung) untuk selama-lamanya.
4) Sifat seorang anak mirip orang tuanya. Jadi jelas bahwa jiwanya berasal dari orang tuanya.
Bantahan:
a) Kemiripan itu bisa terjadi karena anak itu meniru orang tuanya.
b) Tubuh anak itu jelas dari orang tuanya, dan tubuh mempengaruhi jiwa dari anak itu , sehingga akhirnya jiwanya juga mirip orang tuanya.
c) Pada waktu Allah memberikan jiwa, Ia menyesuaikannya dengan tubuh si anak.
5) Ibr 7:9-10 mengatakan bahwa Lewi ada di dalam tubuh Abraham.
Ibr 7:9-10 - “(9) Maka dapatlah dikatakan, bahwa dengan perantaraan Abraham dipungut juga persepuluhan dari Lewi, yang berhak menerima persepuluhan, (10) sebab ia masih berada dalam tubuh bapa leluhurnya, ketika Melkisedek menyongsong bapa leluhurnya itu”.
Bantahan:
a) Dalam Ibr 7:9 ada kata-kata ‘maka dapatlah dikatakan’. Ini menunjukkan bahwa hal ini tidaklah merupakan hal yang sebenarnya.
b) idak mungkin seluruh jiwa Lewi berada dalam tubuh Abraham, karena Sara, Ribka, dan Lea pasti juga punya andil terhadap jiwa Lewi tersebut.
6) Inkarnasi Kristus
Kecuali tubuh dan jiwa Kristus diturunkan dari Maria, maka Kristus tidak bisa disebut manusia sejati sama seperti kita.
Bantahan:
Kristus lahir sama seperti semua manusia yang lain kecuali dalam hal terjadinya kandungan itu oleh Roh Kudus. Kalau semua manusia jiwanya bukan berasal dari orang tuanya (sesuai dengan pandangan Creationism), maka Kristus adalah manusia sama seperti kita sekalipun jiwanya tidak berasal dari Maria (tetapi merupakan ciptaan langsung dari Allah).
7) Adanya dosa / kebejatan moral / rohani pada umat manusia.
Orang-orang yang menganut Traducianism berkata bahwa:
• Kita betul-betul berdosa (actually sinned) di dalam Adam karena pada saat itu kita memang ada di dalam dia.
• Zat yang melanggar Firman Tuhan di dalam diri Adam, itulah yang diturunkan / diberikan kepada kita, sehingga begitu lahir, moral sudah bejat.
Kalau kita beranggapan bahwa jiwa seseorang berasal dari Allah, maka ada 2 kemungkinan:
• Jiwa yang diciptakan Allah itu jiwa yang berdosa.
• Jiwa yang diciptakan itu suci, tetapi lalu setelah dipersatukan dengan tubuh, menjadi manusia yang berdosa.
Yang manapun yang benar, ini berarti bahwa Allah adalah pencipta kejahatan moral (God is the author of moral evil)
Bantahan:
a. Kalau memang pada saat Adam berdosa, kita sudah ada di dalam dia, sehingga kita betul-betul berdosa di dalam dia, maka mengapa dosa Adam yang lain tidak diturunkan? Dan mengapa dosa-dosa nenek moyang kita, tidak diturunkan kepada kita?
b. Kalau semua orang betul-betul berdosa di dalam Adam, maka Kristus juga demikian!
c. Allah bukanlah pencipta dari moral evil / kejahatan moral. Adanya dosa asal, dsb merupakan hukuman Allah atas dosa Adam.
III. Creationism.
Tubuh anak berasal dari orang tuanya, tetapi jiwanya merupakan ciptaan langsung dari Tuhan.
Dasar dari pandangan ini:
1) Ini sesuai dengan penciptaan pertama (terhadap Adam), dimana tubuh berasal dari tanah / bumi, sedangkan jiwa berasal dari Tuhan (Kej 2:7).
Bantahan:
Ini hanya berlaku untuk Adam.
2) Ada ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa jiwa / roh manusia diciptakan / diberi oleh Tuhan.
• Bil 16:22 - “Tetapi sujudlah mereka berdua dan berkata: ‘Ya Allah, Allah dari roh segala makhluk! Satu orang saja berdosa, masakan Engkau murka terhadap segenap perkumpulan ini?’”.
Jadi Allah disebut sebagai ‘Allah dari roh segala makhluk’.
• Ibr 12:9 - “Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?”.
Ayat ini menyebut Allah sebagai ‘Bapa segala roh’.
• Yes 42:5 - “Beginilah firman Allah, TUHAN, yang menciptakan langit dan membentangkannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya, yang memberikan nafas kepada umat manusia yang mendudukinya dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya”.
Ayat ini mengatakan bahwa Allahlah yang memberikan nafas / nyawa kepada umat manusia.
 kata ‘nafas’ di sini menggunakan kata Ibrani yang sama dengan kata ‘nafas’ dalam Kej 2:7.
 kata ‘nyawa’ di sini dalam bahasa Ibraninya adalah RUAKH, yang biasanya diterjemahkan ‘roh’.
• Yes 57:16 - “Sebab bukan untuk selama-lamanya Aku hendak berbantah, dan bukan untuk seterusnya Aku hendak murka, supaya semangat mereka jangan lemah lesu di hadapanKu, padahal Akulah yang membuat nafas kehidupan”.
Ayat ini mengatakan bahwa Allahlah yang membuat ‘nafas kehidupan’.
 kata ‘nafas kehidupan’ di sini menggunakan kata Ibrani yang sama dengan kata ‘nafas’ dalam Kej 2:7.
 kata ‘nafas’ di sini ada dalam bentuk jamak, sehingga tidak mungkin menunjuk kepada Adam.
• Zakh 12:1 - “Ucapan ilahi. Firman TUHAN tentang Israel: Demikianlah firman TUHAN yang membentangkan langit dan yang meletakkan dasar bumi dan yang menciptakan roh dalam diri manusia”.
Ayat ini secara explicit mengatakan bahwa Allahlah yang menciptakan roh dalam diri manusia. Tetapi kata ‘manusia’ di sini menggunakan kata Ibrani ADAM, sehingga ini bisa menunjuk kepada Adam.
• Maz 104:28-30 - “(28) Apabila Engkau memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka tanganMu, mereka kenyang oleh kebaikan. (29) Apabila Engkau menyembunyikan wajahMu, mereka terkejut; apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. (30) Apabila Engkau mengirim rohMu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi”.
Ayat ini mengatakan bahwa binatangpun rohnya dari Tuhan.
Bantahan:
Ayat-ayat tersebut di atas artinya adalah: Allah mencipta roh manusia pertama / roh Adam, dan lalu selanjutnya Allah mencipta dengan perantaraan manusia pertama / Adam.
Mari kita memperhatikan beberapa ayat di bawah ini:
• Ayub 10:8-9 - “(8) TanganMulah yang membentuk dan membuat aku, tetapi kemudian Engkau berpaling dan hendak membinasakan aku? (9) Ingatlah, bahwa Engkau yang membuat aku dari tanah liat, tetapi Engkau hendak menjadikan aku debu kembali?”.
• Ayub 34:14-15 - “(14) Jikalau Ia menarik kembali RohNya, dan mengembalikan nafasNya padaNya, (15) maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu”.
• Maz 103:13-14 - “(13) Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. (14) Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu”.
• Pkh 3:20 - “Kedua-duanya menuju satu tempat; kedua-duanya terjadi dari debu dan kedua-duanya kembali kepada debu”.
Dari ayat-ayat ini terlihat bahwa Kitab Suci juga mengatakan bahwa kita berasal dari debu, padahal yang betul-betul dari debu hanyalah Adam, sedangkan kita diturunkan oleh Adam.
Analoginya: Kalau Kitab Suci berkata bahwa roh / jiwa kita dicipta oleh Allah, maka itu berarti bahwa jiwa / roh Adam saja yang dicipta oleh Allah, sedangkan jiwa / roh kita diturunkan oleh Adam.
3) Jiwa bersifat indivisible (= tak bisa dipecah-pecah). Kalau kita percaya pada Traducianism, maka kita harus percaya bahwa sebagian jiwa ibu bergabung dengan sebagian jiwa ayah menjadi jiwa anak.
Bantahan:
Kita tidak mengerti tentang substance / zat dari jiwa. Kalau dikatakan bahwa jiwa berasal dari orang tua, tetapi dalam proses perkembang-biakan itu tidak terjadi perpecahan maupun penggabungan jiwa, maka tidak ada orang yang bisa membenarkan ataupun menyalahkan.





Kesimpulan:
Ajaran Pre-existentianism jelas salah. Tetapi ajaran Traducianism dan Creationism mempunyai dasar yang sama-sama kuat, sehingga sukar dibuktikan secara jelas yang mana yang benar.
• Agustinus tidak bisa menentukan yang mana yang benar.
• Martin Luther berpegang pada Traducianism.
• Calvin berpegang pada Creationism.
Ini terlihat misalnya dari tafsiran Calvin tentang Yoh 3:6 dimana ia berkata:
“the soul is not begotten by human generation” (= jiwa tidak diturunkan oleh kelahiran) - hal 112.
• Mayoritas (tidak semua) orang Reformed juga berpegang pada Creationism.
• Kelompok kami sendiri condong pada Creationism.





Blood of Jesus - Why is this required?

Blood of Jesus - Why is this required?
In the Old Testament (after Adam’s original sin), God accepted the death of an animal as a substitute for the sinner. The animal’s shed blood was proof that that one life had to be given for another. Life is precious and God places great value on each one of His created beings. This agreement demonstrated that, while blood symbolized death, it also showed that a life was spared. However, this was a temporary covenant. This blood needed to be repeated daily and yearly.
God would later send His only Son providing a new covenant, or New Testament through Jesus Christ. Jesus would die in the place of all sinners. His sacrifice fulfilled completely what the Old Testament covenant meant to. His blood would remove the sins of the world for all who put their faith in Him. This sacrifice would never have to be repeated; it is an eternal covenant.
John the Baptist called Jesus the “Lamb of God, who takes away the sins of the world” (John 1:29) The Lamb of course, referenced the unblemished animal sacrifice of old. There are many references to sacrificial offerings in the Old Testament. One that may be most familiar is the sprinkling of blood on the Hebrew doorposts when they were held in bondage by the Pharaoh of Egypt. This act provided God’s protection as His curse of the death angel passed through the streets. This curse was just one that God sent down on Pharaoh, moving him to release these Hebrew slaves.
The event was then commemorated in the Hebrew Feast of Passover. It is now recognized as a “type” or foreshadowing of the blood of Jesus. The blood is a powerful, freeing, and protecting provision from God. As one Christian hymn says, “There is power, power, wonder-working power in the precious blood of the Lamb.” If you have asked Jesus to be Lord of your life, then you too have applied the blood of the Lamb on the doorposts of your heart. He is covering your heart, and your life with his protection and ever-lasting forgiveness of sin.
Blood of Jesus - How is this possible?
It is possible for everyone to have the protection and forgiveness that the blood of Jesus provides. Regardless of what sins and offenses we have committed against God, He offers this gift to each of us. John 3:17 tells us that Jesus didn’t come to condemn us but to save us.
It is not enough to say we believe in God or know about Him. We must want know Him personally and accept the sacrifice of His Son, Jesus, to receive it. The Bible, God’s Holy Word, says that no one can enter heaven or get to the Father except through the Son (John 14:6) And in John 6:40, Jesus says that all who believe in Him will receive everlasting life -- with Him! We are only asked to believe (have faith), repent (turn from sin), receive (salvation through Jesus), confess Him, and transfer ownership of our lives to Him. If you have never asked Jesus into your life, won’t you ask Him now?
In the Old Testament (after Adam’s original sin), God accepted the death of an animal as a substitute for the sinner. The animal’s shed blood was proof that that one life had to be given for another. Life is precious and God places great value on each one of His created beings. This agreement demonstrated that, while blood symbolized death, it also showed that a life was spared. However, this was a temporary covenant. This blood needed to be repeated daily and yearly.
God would later send His only Son providing a new covenant, or New Testament through Jesus Christ. Jesus would die in the place of all sinners. His sacrifice fulfilled completely what the Old Testament covenant meant to. His blood would remove the sins of the world for all who put their faith in Him. This sacrifice would never have to be repeated; it is an eternal covenant.
John the Baptist called Jesus the “Lamb of God, who takes away the sins of the world” (John 1:29) The Lamb of course, referenced the unblemished animal sacrifice of old. There are many references to sacrificial offerings in the Old Testament. One that may be most familiar is the sprinkling of blood on the Hebrew doorposts when they were held in bondage by the Pharaoh of Egypt. This act provided God’s protection as His curse of the death angel passed through the streets. This curse was just one that God sent down on Pharaoh, moving him to release these Hebrew slaves.
The event was then commemorated in the Hebrew Feast of Passover. It is now recognized as a “type” or foreshadowing of the blood of Jesus. The blood is a powerful, freeing, and protecting provision from God. As one Christian hymn says, “There is power, power, wonder-working power in the precious blood of the Lamb.” If you have asked Jesus to be Lord of your life, then you too have applied the blood of the Lamb on the doorposts of your heart. He is covering your heart, and your life with his protection and ever-lasting forgiveness of sin.
Blood of Jesus - How is this possible?
It is possible for everyone to have the protection and forgiveness that the blood of Jesus provides. Regardless of what sins and offenses we have committed against God, He offers this gift to each of us. John 3:17 tells us that Jesus didn’t come to condemn us but to save us.
It is not enough to say we believe in God or know about Him. We must want know Him personally and accept the sacrifice of His Son, Jesus, to receive it. The Bible, God’s Holy Word, says that no one can enter heaven or get to the Father except through the Son (John 14:6) And in John 6:40, Jesus says that all who believe in Him will receive everlasting life -- with Him! We are only asked to believe (have faith), repent (turn from sin), receive (salvation through Jesus), confess Him, and transfer ownership of our lives to Him. If you have never asked Jesus into your life, won’t you ask Him now?

Sabtu, 25 Juli 2009



Sekali melangkah harus sampai Tujuan,,,,,,
pantang Menyerah,,,,,,,
Bravo......!!!!!!!!!!